Para Investor Ulung: Berbisnis dengan Allah dan Rasul-Nya
Setiap investor tentu mengharapkan laba besar dari setiap usaha yang dijalankan. Namun, di antara segala bentuk investasi duniawi, ada satu jenis investasi yang tak tertandingi: berbisnis dengan Allah dan Rasul-Nya demi agama-Nya.
Pertanyaannya, siapakah para investor terbaik sepanjang sejarah?
artikel Oleh: Badru Salam (Alumni PKU MUI 4 Kota Bekasi)
Abu Bakar ash-Shiddiq: Investasi Total Tanpa Sisa
Ketika sebagian orang menakar keuntungan dengan kalkulator dunia, Abu Bakar ash-Shiddiq justru “menjual” seluruh hartanya kepada Allah. Dalam setiap kesempatan jihad dan dakwah, beliau tidak pernah menahan sedikit pun untuk dirinya. Saat Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”, beliau menjawab tegas:
> “Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Sebuah jawaban yang mencerminkan keyakinan penuh, bahwa investasi dengan Allah tak pernah merugi.
Utsman bin Affan: Sang Konglomerat Dermawan
Dalam Perang Tabuk — masa di mana kaum Muslimin mengalami kesulitan besar — Utsman bin Affan menyalurkan seribu dinar untuk membiayai pasukan. Rasulullah ﷺ sampai bersabda:
> “Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah hari ini.”
Hadis ini menjadi saksi bahwa setiap dinar yang diinfakkan Utsman bukan hanya menggerakkan pasukan, tapi juga membangun jalan menuju surga.
Abdurrahman bin Auf: Kaya Raya, Tapi Hatinya Zuhud
Nama Abdurrahman bin Auf tercatat sebagai salah satu dermawan terbesar dalam sejarah Islam. Ia pernah menyumbangkan 40.000 dinar, 500 ekor unta beserta isinya, dan 500 ekor kuda untuk jihad di jalan Allah. Bahkan setelah Rasulullah ﷺ wafat, ia menjual kebunnya senilai 800.000 dinar, lalu membagikannya kepada istri-istri Nabi, fakir miskin Bani Zuhrah, serta para sahabat veteran Perang Badar.
Baginya, harta hanyalah alat; keuntungan sejati adalah ridha Allah.
Aisyah dan Asma: Dua Putri Abu Bakar yang Dermawan
Dari keluarga Abu Bakar, semangat investasi akhirat mengalir deras pada kedua putrinya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha dikenal gemar mengumpulkan harta hanya untuk dibagikan kepada fakir miskin. Sedangkan Asma radhiyallahu ‘anha tak pernah menyimpan harta untuk hari esok. Bahkan di saat sakit, beliau tetap memerdekakan budak yang dimilikinya — menjadikan masa sakitnya sebagai ladang pahala.
Abu Thalhah dan Keluarganya: Rela Lapar Demi Tamu Rasulullah
Suatu malam, Rasulullah ﷺ kedatangan tamu yang kelaparan. Abu Thalhah segera membawa tamu itu ke rumahnya, meski keluarganya sendiri nyaris tak punya makanan. Mereka mematikan lampu agar tamunya merasa tidak malu makan sendirian, sedangkan mereka berpura-pura makan dalam gelap. Rasulullah ﷺ tersenyum ketika mendengar kisah itu dan turunlah ayat:
> “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Laba Tanpa Batas dari Investasi Ilahi
Investasi yang dilakukan para salaf bukanlah spekulasi, melainkan keyakinan bahwa Allah akan membalas setiap pengorbanan dengan keuntungan berlipat-lipat di akhirat.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
> “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Mereka bukan sekadar dermawan; mereka adalah investor visioner — yang menanam modal di dunia untuk panen abadi di akhirat.
💠 Investasi terbaik bukan yang menambah angka di rekening, tapi yang menambah timbangan amal di hadapan Allah.


Komentar
Posting Komentar