Ditulis oleh : Rifda Luthfiyyah Arganada
(Alumni Ponpes Abu Hurairah Mataram)
Di era modern saat ini, kita sudah tak asing lagi dengan istilah "media sosial". Media sosial sendiri merupakan wadah dan sarana bagi masyarakat modern untuk berkreasi,berekspresi,sampai berinteraksi dengan sesama. Bisa dibilang, kehidupan modern ini tak bisa terpisah dari pengaruh media sosial. Bahkan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan besar di masyarakat. Dengan lahirnya media sosial, masyarakat dapat merasakan dampaknya secara langsung. Aksesibilitas yang lebih luas dalam komunikasi jarak jauh, penguatan jaringan komunikasi, hingga efisiensi dalam menghasilkan cuan merupakan sejumlah implikasi positif yang dapat dirasakan. Namun disisi lain, konsekuensi negatifnya tetap menjadi sesuatu yang sulit dihindarkan. Kurangnya produktivitas,timbulnya ketergantungan, hingga maraknya cyberbullying menjadi tantangan utama bagi pengguna medsos.
MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM Dalam perspektif islam, media sosial bukan sekedar platform komunikasi dan penyebaran pengetahuan semata, tetapi juga menjadi wadah bagi seorang muslim untuk menginternalisasikan nilai-nilai islam dalam bersosialisasi di lingkup digital. Kemajuan teknologi dan komunikasi di era modern menjadi sarana yang komprehensif untuk mengakses dan menyebarkan informasi serta berinteraksi satu sama lain. Pun demikian, beberapa implikasi negatif sulit untuk dihindari. Penyalahgunaan medsos sebagai ajang pamer atau riya', penyebaran hoax dan fitnah, penghinaan terhadap kelompok tertentu, hingga berbagai bentuk pelecehan yang sudah tak asing kita temui di dunia digital menjadi konsekuensi nyata yang harus dihadapi para pengguna medsos. Islam datang membawa perhatian besar terhadap isu moralitas yang kian menguat di ruang digital. Seorang muslim yang baik hendaklah memperhatikan etika dalam bersosialisasi,baik secara langsung maupun tidak langsung, baik melalui lisan maupun tulisan. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya ; يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ ۖ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُون (١١) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (١٢) "Wahai orang-orang yang beriman,janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain; boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka yang mengolok. Dan jangan pula perempuan -perempuan (mengolok) perempuan lain; boleh jadi mereka lebih baik. Janganlah kalian saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan buruk setelah beriman. Barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman,jauhilah banyak dari prasangka,karena sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kalian memata-matai dan janganlah menggunjing satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kalian merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat 11-12) Ayat ini menekankan urgensi menjaga kemurnian nilai-nilai moral yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah dalam berinteraksi, baik secara verbal maupun nonverbal. Selain itu Rasulullah SAW bersabda ; من كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik atau diam" (HR Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47) اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ "Muslim sejati adalah yang orang (muslim) lain selamat dari lisan dan tangannya (perbuatan)" (HR Al-Bukhari no.10 dan Muslim no.40) Hadis diatas menunjukkan betapa pentingnya seorang muslim mengimplementasikan nilai-nilai moral dalam kehidupan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Islam sebagai ajaran yang komprehensif selalu menuntun umatnya agar bersikap bijak dalam segala aspek kehidupan , termasuk dalam bermedia sosial. Karena sejatinya integritas seorang muslim tidak hanya tercermin melalui perilaku yang tampak di dunia nyata, tetapi juga dari jejak digital yang ia tinggalkan didunia maya. Setiap unggahan,komentar,maupun ucapan kita di media sosial merupakan bentuk nyata dari akhlak dan karakter kita. PRINSIP AKHLAK BERMEDIA SOSIAL Dengan adanya kemudahan teknologi informasi di era modern, seorang muslim lebih dituntut untuk menjaga etika dan moral yang berlandaskan hukum islam di setiap aspek kehidupannya,termasuk dalam lingkup digital. Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa bersikap bijak dalam menggunakan media sosial. Berikut adalah beberapa adab yang harus diperhatikan seorang muslim dalam bersosialisasi di dunia maya; Menjaga Lisan dan Tulisan Seorang muslim hendaknya bersikap bijak dalam berucap maupun bertindak, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Segala bentuk ghibah,namimah, hingga fitnah merupakan perbuatan keji yang pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Tabayyun / meneliti informasi sebelum berpendapat Fenomena cyberbullying kian menguat di ruang digital, yang tidak lain disebabkan oleh kebiasaan asal share dan berpendapat tanpa mencari tahu kebenarannya. Oleh karena itu, seorang muslim wajib meneliti informasi yang didapatkannya sehingga tidak memicu adanya suudzon atau prasangka buruk, hingga berujung pada fitnah. Jadikan medsos sebagai sarana dakwah dan menebar kebaikan Kemudahan dalam mencari dan menyebarkan informasi di era modern menjadi peluang sekaligus tantangan bagi seorang muslim dalam memanfaatkan teknologi yang ada. Oleh karena itu, hendaknya media sosial dijadikan sebagai sarana untuk penyebaran dakwah, ilmu yang bermanfaat, dan penanaman nilai-nilai islam kepada masyarakat luas Menjauhi perbuatan riya' / pamer Fenomena riya' digital kian menguat dengan canggihnya teknologi di era modern. Riya' berarti menampilkan kebaikan atau amal shalih di media sosial dengan tujuan agar dipuji manusia , bukan semata-mata karena ridho Allah. Jika dahulu riya' hanya terjadi di ruang kecil, kini ia menjelma menjadi riya' yang bisa disaksikan jutaan pasang mata. Padahal Allah mengecam keras pelaku riya' dalam firmanNya ; فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (٥) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) Artinya: "Maka celakalah orang-orang yang shalat, (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Yaitu) orang-orang yang berbuat riya'" (QS Al-Ma'un : 4-6) Ayat ini menegaskan bahwa perbuatan riya' merupakan perbuatan yang sangat tercela bahkan bisa mendatangkan murka Allah. Seseorang yang berbuat riya' berarti telah bermaksiat kepada Allah, walaupun secara dzahir sedang melakukan amal shalih. Menjaga pandangan dari melihat hal-hal yang diharamkan Canggihnya media digital saat ini sangat memudahkan siapapun untuk mengunggah segala jenis konten, termasuk konten-konten vulgar yang tidak selaras dengan nilai-nilai islam. Oleh karena itu, seorang muslim wajib bersikap bijak dalam memilih konten yang layak ditonton, serta wajib menjaga pandangannya dari hal-hal yang haram. Sebab sejatinya menundukkan pandangan tidak hanya wajib di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Dengan memahami dan mengamalkan etika dalam bermedia sosial, seorang muslim diharapkan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dalam hal-hal positif. Karena dengan semakin canggihnya media digital saat ini seharusnya menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan,dakwah dan nilai-nilai islam. Mari menggunakan media sosial dengan bijak,berakhlak,dan penuh tanggung jawab, sehingga jejak digital yang kita tinggalkan dapat menjadi ladang pahala yang kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan kita untuk menghadirkan nilai islam di setiap aspek kehidupan kita, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Baarokallahu fiikum. REFERENSI Al-Qur'an Al-Karim Shahih Al-Bukhari Shahih Muslim Firanda Andirja, Fiqh Bermedia Sosial Juminem, Adab Bermedia Sosial Dalam Pandangan Islam. Geneologi PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. 6 No. 1 (2019) Artikel dan kajian umum mengenai etika bermedia sosial dalam islam Ilustrasi seseorang bermedia sosial (dokumentasi pribadi) Tentang penulis : Nama:Rifda Luthfiyyah Arganada Email / no hp : 087722293331
Komentar
Posting Komentar