Oleh: Dimas Fajri Adha Narasi sejarah Barat sering kali membingkai Renaisans Eropa—era kebangkitan rasionalitas, sains, dan seni pada abad ke-14—sebagai sebuah lompatan mandiri dari Dark Ages menuju pencerahan modern. Namun, narasi ini kerap melewatkan satu mata rantai epistemologis yang krusial: bahwa kebangkitan Eropa tidak akan pernah terjadi tanpa proses "pemaknaan informasi" yang dilakukan secara masif oleh peradaban Islam berabad-abad sebelumnya. Ketika Eropa terpuruk dalam stagnasi Abad Pertengahan, dunia Islam dari Baghdad hingga Andalusia tidak sekadar bertindak sebagai "tukang pos" yang menyimpan teks-teks klasik Yunani dan Romawi. Lebih dari itu, para cendekiawan Muslim melakukan transformasi hermeneutik—mengubah tumpukan informasi mentah menjadi sebuah sistem makna yang baru. Dari Terjemahan Menuju Pemaknaan Epistemologis Pada masa Islamic Golden Age (Masa Keemasan Islam...
Ternyata, orang-orang jahiliyah masih ada di zaman modern ini. Mengagetkan? Atau sebenarnya… kita sering tidak sadar sedang mengulang pola mereka? ๐ Dalam salah satu hadits, Rasulullah ๏ทบ bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme ('ashabiyyah), yang berperang karena fanatisme, dan yang mati karena fanatisme." Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan juga terdapat dalam Musnad Ahmad. Namun konteks sejarahnya lebih kuat lagi. Dalam riwayat shahih di Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, terjadi perselisihan kecil antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar saat Perang Bani Musthaliq. Keduanya Muslim. Keduanya sahabat Nabi ๏ทบ. Namun ketika emosi memuncak, mereka berteriak: "Wahai kaum Anshar!" "Wahai kaum Muhajirin!" Seruan identitas. Rasulullah ๏ทบ langsung menegur: "Apakah dengan seruan jahiliyah sementara aku masih berada di tengah kalian?" "Tinggalkan itu, karena itu busuk." Perhatikan satu hal ...