Langsung ke konten utama

Fanatisme Itu Busuk: Pelajaran Hadits tentang ‘Ashabiyyah di Zaman Modern


Ternyata, orang-orang jahiliyah masih ada di zaman modern ini.

Mengagetkan?

Atau sebenarnya… kita sering tidak sadar sedang mengulang pola mereka? 🙂




Dalam salah satu hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme ('ashabiyyah), yang berperang karena fanatisme, dan yang mati karena fanatisme."



Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan juga terdapat dalam Musnad Ahmad.

Namun konteks sejarahnya lebih kuat lagi.

Dalam riwayat shahih di Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, terjadi perselisihan kecil antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar saat Perang Bani Musthaliq.

Keduanya Muslim.
Keduanya sahabat Nabi ﷺ.

Namun ketika emosi memuncak, mereka berteriak:

"Wahai kaum Anshar!"
"Wahai kaum Muhajirin!"

Seruan identitas.

Rasulullah ﷺ langsung menegur:

"Apakah dengan seruan jahiliyah sementara aku masih berada di tengah kalian?"
"Tinggalkan itu, karena itu busuk."

Perhatikan satu hal penting:

Yang ditegur bukan orang kafir.
Bukan musuh Islam.

Tetapi para sahabat.

Artinya?

Mentalitas jahiliyah bukan soal zaman.
Ia soal pola pikir.


Apa Itu 'Ashabiyyah?

Secara ilmiah, 'ashabiyyah adalah membela kelompok bukan karena kebenaran, tetapi karena loyalitas buta.

Bukan identitasnya yang salah.
Yang salah adalah membela identitas meski keliru.

Dalam konteks modern, bentuknya bisa beragam:

Fanatisme mazhab
Fanatisme organisasi
Fanatisme politik
Fanatisme nasionalisme tanpa etika
Bahkan fanatisme tokoh


Kita membela, bukan karena benar —
tetapi karena "itu kelompok kita".

Bukankah ini pola jahiliyah yang dulu ditegur Nabi?

Al-Qur'an sudah memberi prinsip dasar:

> "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)

Dan juga peringatan keras:

> "Janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan." (QS. Al-Anfal: 46)


Secara sosial dan historis, perpecahan internal selalu melemahkan peradaban.

Refleksi untuk Kita، Ketika hari ini kita melihat:

Perdebatan keras antar sesama Muslim
Saling merendahkan
Saling menyesatkan tanpa ilmu
Bangga dengan kelompok sendiri sambil meremehkan yang lain


Mungkin pertanyaannya bukan lagi: "Siapa yang salah?"

Tapi: "Apakah ada sisa-sisa jahiliyah dalam diri kita?"

Mengagetkan?

Atau sebenarnya sudah terlalu biasa?

Fanatisme bukan tanda kekuatan iman.
Ia tanda kedewasaan yang belum selesai.

Karena kemuliaan bukan pada label kelompok,
melainkan pada takwa.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari fanatisme buta, dan menggantinya dengan ilmu, adab, dan ukhuwah yang matang.

Dimas Fajri Adha
Aktivis, Forum Dawai
Daiwasathiyah.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inspirasi untuk Jiwa yang Terlalu Sibuk Cemas

Life’s Too Short to Worry So Much: Inspirasi untuk Jiwa yang Terlalu Sibuk Cemas Oleh : Dimas Fajri Adha, SE. Kita hidup di zaman yang menuntut banyak hal: performa tinggi, stabilitas finansial, relasi yang ideal. Akibatnya, banyak dari kita terjebak dalam overthinking. Kita takut gagal, takut miskin, takut ditinggal, takut tidak mencapai ekspektasi dunia. Tapi, pertanyaannya: apakah hidup ini memang untuk dicemaskan? Ataukah untuk dijalani dengan tenang dan iman yang matang? Hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan dalam bayang-bayang kecemasan. Dunia ini bukan untuk dimiliki, tapi untuk dilalui—dengan sabar dan syukur. 1. Perspektif Ilmiah: Kecemasan dan Kerusakan Sistemik Studi dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa stres kronis dapat merusak sistem imun, mempercepat penuaan sel, dan menjadi penyebab utama penyakit jantung, tekanan darah tinggi, bahkan depresi. Dalam bahasa ringkas: terlalu banyak cemas membuat kita “mati lebih cepat” secara fisik dan psikis....

DASAR-DASAR MANTIQ (Logika Dasar dalam Islam)

Level Pemula: Untuk Dakwah dan Tadabbur 1. Apa Itu Mantiq? Definisi: Mantiq secara bahasa berarti “ucapan yang runtut.” Secara istilah, mantiq adalah ilmu yang mempelajari cara berpikir yang benar agar terhindar dari kesalahan dalam memahami atau menyimpulkan sesuatu. Dalil Indikatif: > “Afala ta'qilun?” – (Apakah kalian tidak berpikir?) – (QS. Al-Baqarah: 44, dan banyak lainnya) → Al-Qur’an mendorong penggunaan akal yang benar. Ungkapan "afalā ta‘qilūn" (أَفَلَا تَعْقِلُونَ) yang bermakna "maka apakah kalian tidak menggunakan akal?" adalah ungkapan Al-Qur’an yang sering diulang dalam konteks seruan untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal sehat. Dalil dan Referensinya Frasa "أَفَلَا تَعْقِلُونَ" muncul dalam banyak ayat, di antaranya: 1. Surah Al-Baqarah ayat 44 > أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَـٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ > “Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan, sedangka...

Akhlak Bermedia Sosial: Etika Muslim di Ruang Digital

Ditulis oleh : Rifda Luthfiyyah Arganada (Alumni Ponpes Abu Hurairah Mataram) Di era modern saat ini, kita sudah tak asing lagi dengan istilah "media sosial". Media sosial sendiri merupakan wadah dan sarana bagi masyarakat modern untuk berkreasi,berekspresi,sampai berinteraksi dengan sesama. Bisa dibilang, kehidupan modern ini tak bisa terpisah dari pengaruh media sosial. Bahkan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan besar di masyarakat. Dengan lahirnya media sosial, masyarakat dapat merasakan dampaknya secara langsung. Aksesibilitas yang lebih luas dalam komunikasi jarak jauh, penguatan jaringan komunikasi, hingga efisiensi dalam menghasilkan cuan merupakan sejumlah implikasi positif yang dapat dirasakan. Namun disisi lain, konsekuensi negatifnya tetap menjadi sesuatu yang sulit dihindarkan. Kurangnya produktivitas,timbulnya ketergantungan, hingga maraknya cyberbullying menjadi tantangan utama bag...