Haji Wada', Baqi', dan Jejak Peradaban di Era Digital
Ada satu hal yang selalu membuat saya terpukau ketika membaca sejarah Islam. Bukan sekadar tentang syahdunya Khutbah Haji Wada', tetapi tentang manuver luar biasa yang terjadi setelahnya.
Pada tahun ke-10 Hijriah, puluhan ribu sahabat berkumpul mendengarkan pesan-pesan terakhir Rasulullah ﷺ. Mereka menyimak amanat yang kelak menjadi cetak biru bagi umat Islam pasca wafatnya sang pembawa risalah. Namun, yang paling mengagumkan bukanlah volume jamaah yang hadir, melainkan bagaimana mereka merespons pesan tersebut.
Mereka tidak berhenti sebagai pendengar. Mereka bergerak.
Sebuah refleksi historis yang menghentak dapat ditelusuri dari Jannatul Baqi, pemakaman utama di Kota Madinah. Menurut catatan Imam Abu Zur’ah Ar-Razi (w. 264 H), pada saat Rasulullah ﷺ wafat, beliau meninggalkan sekitar 114.000 sahabat—sebuah populasi yang sangat masif. Fakta ini turut dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Isabah fi Tamyiz as-Sahabah.
Namun, literatur sejarah Kota Madinah, seperti yang dicatat oleh Imam As-Samhudi dalam ensiklopedia Wafa’ al-Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa, menyebutkan bahwa jumlah sahabat yang dimakamkan di Jannatul Baqi "hanya" berkisar di angka 10.000 orang.
Lalu, ke mana perginya lebih dari 100.000 sahabat lainnya?
Selisih angka demografis yang sangat mencolok ini adalah bukti empiris yang luar biasa. Makam Baqi menjadi saksi bisu bahwa mayoritas generasi pertama Islam tidak memilih kenyamanan menetap di ibu kota Madinah. Sebaliknya, mereka berdiaspora. Sebagian menuju Syam, sebagian ke Irak, Persia, Mesir, Yaman, Afrika Utara, hingga ke berbagai wilayah yang sebelumnya tak tersentuh cahaya Islam. Mereka bertransformasi menjadi guru, pedagang, hakim, panglima, dan pembangun peradaban.
Jika dahulu para sahabat harus menempuh perjalanan berbulan-bulan melintasi ganasnya padang pasir demi menyampaikan satu ayat, hari ini Allah menghadirkan infrastruktur yang jauh lebih efisien. Internet, media sosial, podcast, video, artikel, dan mesin pencari telah meruntuhkan batas-batas geografis yang dahulu menjadi rintangan operasional dakwah.
Karena itu, saya sering mengajak diri sendiri untuk melakukan sebuah refleksi sederhana.
Coba ketik nama Anda di Google.
Apa yang muncul?
Apakah ada tulisan yang mencerahkan? Apakah ada gagasan yang menginspirasi? Ataukah justru tidak ada jejak kebermanfaatan sama sekali yang dapat ditemukan?
Tentu saja, dakwah tidak identik dengan popularitas. Keikhlasan tidak dikalkulasi dari jumlah pengikut atau analitik tayangan. Namun, dalam perspektif kebermanfaatan, jejak digital adalah salah satu bentuk ikhtiar agar ilmu dapat melintasi ruang dan waktu, menjangkau lebih banyak manusia.
Para ulama terdahulu meninggalkan berjilid-jilid kitab.
Para sahabat meninggalkan murid dan bentangan wilayah dakwah.
Lalu, warisan peradaban seperti apa yang akan ditinggalkan oleh generasi kita?
Mungkin tidak semua orang berkapasitas menjadi penceramah besar. Tidak semua orang harus memiliki jutaan pengikut. Namun, setiap muslim yang memiliki ilmu, pengalaman, hikmah, atau gagasan yang baik, memiliki akses yang sama untuk meninggalkan jejak digital yang bermanfaat bagi sesama.
Sebab boleh jadi, medan dakwah paling strategis di abad ini bukan lagi di jalur perdagangan atau perjalanan lintas benua, melainkan di balik layar ponsel, mesin pencari, dan ruang-ruang digital yang setiap detik dikunjungi manusia untuk mencari jawaban atas persoalan hidupnya.
Jika para sahabat rela menempuh ribuan kilometer perjalanan untuk menyebarkan kebaikan, maka apa alasan kita—yang hanya berjarak satu ketukan pada tombol "publikasikan"—untuk memilih diam?
Ditulis oleh:
Dimas Fajri Adha
Koordinator Forum Dai Wasathiyah Indonesia (DAWAI)
Komentar
Posting Komentar