Arti Hijrah yang Sebenarnya: Lebih dari Sekadar Gaya dan Sapaan
Ditulis oleh : Dimas Fajri Adha, SE.
(Alumni PKU MUI IV - Kota Bekasi)
🕌 Pendahuluan
Kata "hijrah" kini begitu populer.
Banyak yang mengaitkannya dengan perubahan penampilan: mulai memakai gamis, berniqab, memelihara jenggot, meninggalkan isbal, atau saling memanggil "ana–antum".
Semua itu tentu baik — tanda ada semangat menuju ketaatan.
Namun, hijrah tidak boleh berhenti pada kulit luar.
Hijrah yang sejati bukan sekadar ganti fashion dan komunitas, melainkan perubahan arah hati dan kesadaran diri — dari ingin dilihat manusia, menjadi ingin diridhai Allah.
👕 Hijrah dan Fashion: Antara Simbol dan Substansi
Fenomena hijrah hari ini sering dimulai dari gaya hidup Islami. Tapi jangan sampai hijrah menjadi tren yang kehilangan ruh.
Hijrah sejati menuntun pada tawadhu', bukan kesombongan; pada kasih sayang, bukan penghakiman.
> قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ:
إِنَّ اللّٰهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian."
(HR. Muslim no. 2564)
Berpenampilan syar'i tentu mulia, tetapi pakaian tidak akan menyelamatkan hati yang kotor, dan bahasa Arab tidak otomatis menggantikan adab yang hilang.
Sapaan "ana–antum" memang indah, tapi yang lebih indah adalah ukhuwah fillāh — hati yang benar-benar bersaudara karena Allah.
📖 Hijrah Dimulai dari Ilmu dan Tauhid
Banyak orang ingin berhijrah, tapi sedikit yang memulai dengan ilmu.
Padahal, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk mengetahui tauhid sebelum beramal.
> قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ
"Maka ketahuilah (wahai Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun atas dosamu."
(QS. Muhammad [47]:19)
Susunan ayat ini luar biasa: Allah mendahulukan فَاعْلَمْ (maka ketahuilah) sebelum استَغْفِرْ (mohonlah ampun).
Artinya, ilmu dan pemahaman tentang tauhid harus datang sebelum amal dan ibadah.
Imam al-Bukhari bahkan membuka Shahih-nya dengan bab:
> بَابُ الْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
"Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan."
Tauhid adalah inti ilmu hijrah.
Tanpa mengenal Allah dengan benar, seseorang mudah tersesat oleh simbol, terjebak dalam ujub (bangga diri) atau ghuluw (berlebihan).
🌿 Dari Ilmu ke Aqidah, dari Aqidah ke Tazkiyah
Ilmu melahirkan aqidah yang benar, dan aqidah yang kokoh akan menumbuhkan tazkiyatun nafs — pembersihan jiwa.
> قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."
(QS. Asy-Syams [91]:9)
Inilah rantai emas hijrah sejati:
1. Ilmu (فَاعْلَمْ) — memahami kebenaran sebelum beramal.
2. Aqidah (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ) — menegaskan arah hidup hanya menuju Allah.
3. Tazkiyah (وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ) — memperbaiki diri dengan istighfar dan amal saleh.
Tanpa ilmu, hijrah bisa tersesat dalam simbol.
Tanpa aqidah, hijrah kehilangan arah.
Tanpa tazkiyah, hijrah berhenti di ego.
⚖️ Hijrah yang Dewasa
Hijrah yang benar membuat seseorang lebih lembut, bukan lebih keras.
Lebih bijak, bukan lebih merasa benar.
Sebab ilmu yang benar akan menuntun hati untuk takut kepada Allah, bukan bangga karena merasa paling taat.
> إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
(QS. Fāṭir [35]:28)
💡 Penutup: Dari Hijrah ke Ukhuwah
Hijrah adalah langkah awal. Istiqamah dan ukhuwah adalah kelanjutannya.
Karena ujung perjalanan hijrah bukan perbedaan gaya atau komunitas, tapi persaudaraan dalam iman.
> قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati."
(QS. Al-Ḥujurāt [49]:10)
🪶 Kesimpulan
Hijrah sejati adalah perjalanan dari kulit ke isi, dari simbol ke substansi, dari diri ke Ilahi.
Bukan berhenti di pakaian atau gaya bicara, tapi menembus sampai ke hati dan akhlak.
Bukan berhenti di semangat awal, tapi terus tumbuh dalam ilmu, aqidah, dan tazkiyah.
"Hijrah itu bukan tentang seberapa jauh kamu berubah di mata manusia, tapi seberapa dalam hatimu berubah di hadapan Allah."
.jpg)
Komentar
Posting Komentar