Oleh : Kang Yanyan - Alumni PKU MUI Kota Bekasi - Angkatan IV
Bagaimana jika Allah menumbuhkan kebaikan dalam diri seseorang? Kitab Nashaihul Ibad menyatakan:
“Jika Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang baik, maka Dia menjadikan hamba itu mengerti agama, menjadi zuhud terhadap dunia, dan sadar akan aib dirinya.”
(Seperti dikutip dalam pengantar Anda)
Mari kita telaah kedalaman ketiganya dengan rapi, disertai dalil dan sentuhan perspektif akademis serta hikmah spiritual.
---
1. Mengerti Agama
Mengerti agama tidak sekadar menghafal dalil atau memahami fiqh, tetapi memahami arah hidup dan cita-cita keberadaan kita—mengenal tujuan diciptakan dan jalan yang diridhai Allah.
Dalil: Rasulullah ๏ทบ bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah pahamkan dia dalam agama” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perspektif akademis: Dalam pendidikan agama, “mengerti agama” sering diartikan sebagai internalisasi nilai dan tujuan hidup, bukan sekedar akumulasi informasi. Hal ini sejalan dengan konsep understanding over memorization dalam ilmu pendidikan agama.
Refleksi diri: Apakah agama menjadi cahaya penuntun langkah, atau sekadar hiasan di dinding rumah? Apakah kita menata hidup berdasarkan tujuan akhirat atau hanya mengikuti arus dunia?
---
2. Zuhud terhadap Dunia
Zuhud bukan meninggalkan dunia, melainkan meletakkan hati pada yang abadi, bukan fana.
Makna zuhud: Menurut Imam al-Ghazali dalam Hakikat Fakir dan Zuhud, zuhud adalah meninggalkan yang duniawi untuk meraih yang lebih baik di akhirat . Ibnul Jauzi menjelaskan zuhud sebagai berpaling dari dunia karena kesadaran akan kehinaannya .
Dalil:
Al-Qur’an: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amalan-amalan yang kekal adalah lebih baik…” (QS. Al-Kahfi 18:46) .
Hadis: “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah) .
Tingkatan zuhud (Ibn Qayyim):
1. Zuhud terhadap yang haram (wajib)
2. Zuhud terhadap hal-hal berlebihan (sunah/mubah)
3. Zuhud terhadap segala yang bukan Allah—baik world maupun akhirat—seorang yang makrifat .
Refleksi diri: Sejauh mana hati kita bebas dari kegelisahan materi? Apakah kita mengejar pujian manusia, padahal satu kalimat “Subhanallah” lebih bernilai?
---
3. Menyadari Aib Diri
Sadar akan kekurangan diri adalah jalan inti menuju kerendahan hati dan perbaikan diri.
Dalil spiritual: Nabi Muhammad ๏ทบ meski maksum, mendoakan: “Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku pada diriku walau sekejap mata.” (HR. Abu Dawud). Ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran diri dalam setiap detik hidup.
Kisah sahabat: Abu Dzar al-Ghifari r.a., simbol zuhud dan keikhlasan, berkata: “Cukuplah aku punya pakaian untuk menutup aurat dan roti yang mengenyangkan perutku.” Dalam kesederhanaan, lahirlah ketenangan hati.
Perspektif akademis: Kesadaran kelemahan diri adalah aspek penting dalam muhasabah (introspeksi spiritual). Dalam psikologi agama, pengakuan atas kekurangan diri membuka jalan bagi perubahan nyata. Sama seperti Dunning–Kruger effect, hanya melalui menyadari ‘ketidaktahuan’ kita bisa tumbuh lebih rendah hati dan bijak (refleksi dari diskusi di Reddit) .
Refleksi diri: Apakah kita sedang memperbaiki diri sendiri, atau lebih sibuk mengorek kesalahan orang lain?
---
Struktur Rahmat dalam Nashoihul Ibad
Kitab Nashoihul Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani adalah kumpulan nasihat spiritual dan moral. Berisi sekitar 214 nasehat, 45 di antaranya dari hadis dan sisanya dari ucapan ulama serta sahabat—berfokus pada akhlak, sabar, tawadhu, dan keadilan .
---
Tiga Pilar Menuju Kebaikan – Ringkasan Tabel
Jalan Menuju Kebaikan Esensi Utama Dalil / Referensi
Mengerti Agama Memahami arah hidup dan tujuan diciptakan HR. Bukhari-Muslim; pendidikan agama
Zuhud terhadap Dunia Hati tidak tergantung dunia, fokus akhirat QS. Al-Kahfi 18:46; HR. Ibnu Majah; al-Ghazali; Ibn Qayyim
Sadar Aib Diri Kerendahan hati, introspeksi, memperbaiki diri HR. Abu Dawud; Abu Dzar; perspektif tasawuf & psikologi
---
Penutup: Ajak Diri untuk Bertanya
Sudahkah kita menapak jalan ini?
1. Apakah agama menjadi cahaya penuntun hidup, bukan sekadar 'hiasan'?
2. Apakah hati kita sudah ‘zuhud’—tidak terikat dunia?
3. Sudahkah kita mengenali kelemahan diri dan memperbaikinya?
Jika belum—ini saat yang tepat untuk mengetuk pintu kasih-Nya. Dia-lah yang membuka jalan kebaikan.
Doa Penutup
Ya Allah, tununkan pemahaman agama yang tulus dalam hati kami. Lapangkan dada untuk menerima kebenaran. Jadikan dunia ada di tangan kami, bukan di hati kami. Bukakan mata batin kami untuk jujur melihat aib diri, agar kami sibuk memperbaiki diri, bukan mencari
-cari kesalahan orang lain. Karuniakanlah kami hati lembut, amal ikhlas, dan langkah yang Engkau ridhai. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar