Langsung ke konten utama

Mungkin Pertemuan Ini Bukan Kebetulan


Uploaded Image

MUNGKIN, KITA DIPERTEMUKAN UNTUK BELAJAR

Ada orang-orang yang baru kita kenal,
tetapi pertemuan dengannya membuat kita pulang membawa sesuatu.

Satu nasihat.
Satu ilmu.
Satu pengingat.
Atau bahkan satu pertanyaan yang membuat kita kembali berpikir tentang Allah.

Mungkin kita tidak perlu tahu mengapa Allah mempertemukan kita.

Cukup syukuri ketika sebuah pertemuan membuat kita menjadi lebih baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Al-arwāḥu junūdun mujannadah, famā ta‘ārafa minhā i’talafa, wa mā tanākara minhā ikhtalafa.

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun. Yang saling mengenal akan cenderung menyatu, dan yang saling tidak mengenal akan berselisih.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kita tidak perlu memaksakan tafsir di luar apa yang dijelaskan para ulama.

Tetapi kita boleh mengambil pelajaran:

jika Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, jangan sia-siakan pertemuan itu.

Sebab boleh jadi,
di sanalah Allah sedang memberikan kita salah satu kepingan bekal menuju akhirat.

---

IQRA: BUKAN SEKADAR MEMBACA

Wahyu pertama yang turun dimulai dengan:

اقْرَأْ

Iqra’.

“Bacalah.”

(QS. Al-‘Alaq: 1)

Membaca bukan hanya membuka halaman buku.

Kita membaca ayat Allah.
Membaca hadis Rasulullah ﷺ.
Membaca nasihat para guru.
Membaca perjalanan hidup.
Membaca kesalahan diri.
Bahkan membaca pengalaman pahit yang pernah kita lalui.

Lalu dari semua itu,
kita mengumpulkan potongan-potongan ilmu.

Seperti menyusun puzzle.

Satu potongan mungkin belum berarti banyak.

Tetapi teruslah mengumpulkannya.

Karena bisa jadi,
apa yang hari ini terlihat seperti potongan kecil,
suatu hari akan menjadi bagian penting dari perjalanan kita menuju Allah.

---

JANGAN MERASA TERLALU MUDA UNTUK BELAJAR

Allah mengajarkan kita sebuah doa:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Wa qul rabbi zidnī ‘ilmā.

“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

(QS. Ṭāhā: 114)

Maka jangan berhenti belajar hanya karena merasa sudah tahu.

Dan jangan malu karena masih banyak yang belum kita tahu.

Justru kesadaran bahwa kita masih banyak tidak tahu,
adalah awal dari perjalanan ilmu.

Sebab umur kita mungkin terbatas.

Tetapi apa yang kita pelajari dan amalkan,
semoga menjadi bekal ketika umur itu berakhir.

---

JADILAH PEMUDA YANG TUMBUH DALAM KEBAIKAN

Rasulullah ﷺ bersabda tentang salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat:

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ

Wa syābbun nasya’a fī ‘ibādatillāh.

“Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadi pemuda yang dicintai Allah bukan berarti tidak pernah salah.

Kita bisa jatuh.

Bisa lalai.

Bisa tersesat sebentar.

Tetapi jangan berhenti kembali.

Belajar lagi.
Memperbaiki diri lagi.
Mencari ilmu lagi.
Mengingat Allah lagi.

Karena yang penting bukan sekadar pernah baik,

tetapi terus berusaha menjadi lebih baik.

---

SEMOGA KITA TERMASUK THĀ’IFAH MANṢŪRAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ

Lā tazālu ṭā’ifatun min ummatī ẓāhirīna ‘alal-ḥaqq.

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tetap berada di atas kebenaran.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan makna ṭā’ifah ini dengan penjelasan yang beragam.

Maka jangan menjadikannya alasan untuk merasa:

“Kamilah kelompok yang paling benar.”

Justru jadikan ia sebuah doa:

“Ya Allah, semoga kami termasuk di dalamnya.”

Karena berada di atas kebenaran bukan tentang merasa paling tinggi.

Tetapi tentang terus mencari kebenaran,
mempelajarinya,
mengamalkannya,
dan bersabar untuk tetap berada di atasnya.

---

Jadi kalau hari ini Allah mempertemukan kita dalam sebuah majelis ilmu,

jangan anggap biasa.

Mungkin kita datang hanya membawa rasa penasaran.

Pulang membawa satu ilmu.

Besok ilmu itu menjadi amal.

Amal itu menjadi kebiasaan.

Kebiasaan itu menjadi karakter.

Dan karakter itu,
dengan rahmat Allah,
menjadi bekal ketika kita pulang kepada-Nya.

Maka...

teruslah membaca.

Teruslah belajar.

Teruslah mengumpulkan puzzle kebaikan.

Kita tidak pernah tahu,
kepingan mana yang kelak paling berarti di hadapan Allah.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang mengingatkan ketika kita lupa,
menguatkan ketika kita lemah,
dan mengajak kita kembali ketika kita mulai jauh.

Semoga kita menjadi pemuda yang dicintai Allah.

Semoga ilmu kita menjadi amal.

Semoga pertemuan kita menjadi jalan menuju kebaikan.

Dan semoga dengan rahmat-Nya,

kita termasuk ṭā’ifah manṣūrah—orang-orang yang senantiasa ditolong untuk tetap berada di atas kebenaran.

Aamiin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manajemen Masjid: Profesional, Amanah, dan Berorientasi Peradaban

BEASISWA S2 DALAM NEGRI Masjid dalam sejarah Islam bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah pusat pendidikan, ekonomi, musyawarah, bahkan penguatan sosial umat. Namun di era modern, pengelolaan masjid tidak cukup hanya bermodal semangat. Dibutuhkan sistem, tata kelola, transparansi, dan profesionalitas. Menjawab kebutuhan itu, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ganesha membuka Konsentrasi Manajemen Masjid pada Program: 🎓 S1 Manajemen Total 148 SKS Lama studi 8 semester (4 tahun) Perkuliahan offline & online Mata Kuliah Unggulan: Sejarah Perkembangan Masjid Sistem Digitalisasi Masjid Manajemen SDM Masjid Manajemen Operasional Masjid Manajemen Keuangan & Penganggaran Masjid Manajemen Risiko & Strategi Masjid Aspek Hukum Masjid Kewirausahaan Masjid 🎓 S2 Manajemen (Konsentrasi Manajemen Masjid) Total 39 SKS Lama studi 4 semester (2 tahun) Perkuliahan offline & online Mata Kuliah Inti: Manajemen Keuangan Manajemen SDM Sistem Informasi Manajemen Manajeme...

Inspirasi untuk Jiwa yang Terlalu Sibuk Cemas

Life’s Too Short to Worry So Much: Inspirasi untuk Jiwa yang Terlalu Sibuk Cemas Oleh : Dimas Fajri Adha, SE. Kita hidup di zaman yang menuntut banyak hal: performa tinggi, stabilitas finansial, relasi yang ideal. Akibatnya, banyak dari kita terjebak dalam overthinking. Kita takut gagal, takut miskin, takut ditinggal, takut tidak mencapai ekspektasi dunia. Tapi, pertanyaannya: apakah hidup ini memang untuk dicemaskan? Ataukah untuk dijalani dengan tenang dan iman yang matang? Hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan dalam bayang-bayang kecemasan. Dunia ini bukan untuk dimiliki, tapi untuk dilalui—dengan sabar dan syukur. 1. Perspektif Ilmiah: Kecemasan dan Kerusakan Sistemik Studi dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa stres kronis dapat merusak sistem imun, mempercepat penuaan sel, dan menjadi penyebab utama penyakit jantung, tekanan darah tinggi, bahkan depresi. Dalam bahasa ringkas: terlalu banyak cemas membuat kita “mati lebih cepat” secara fisik dan psikis....

MUI Kota Bekasi Gelar Wisuda Pendidikan Kader Ulama 2025, Tegaskan Urgensi Regenerasi Keulamaan di Era Modern

  Sumber foto : Facebook Bekasi, 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi melalui Lembaga Pendidikan Kader Ulama (LPKU) menggelar acara Wisuda dan Penutupan Pendidikan Kader Ulama (PKU) tahun 2025, sebagai bagian dari upaya strategis dalam menyiapkan generasi penerus ulama yang berkompeten dan relevan dengan tantangan zaman. Acara dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan rangkaian kegiatan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Prosesi wisuda berlangsung khidmat dengan dihadiri para wisudawan, keluarga, pengurus MUI, serta perwakilan unsur pemerintah, TNI, Polri, dan Kejaksaan. Orasi Ilmiah: Urgensi Kompetensi Ulama di Era Kontemporer Sorotan utama kegiatan ini adalah sesi Stadium General yang disampaikan oleh KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., Ph.D, selaku Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah. Dalam orasinya, beliau menyinggung memori masa kuliah tahun 2006–2008 saat mengikuti program kaderisasi muballigh dan ulama di Jakarta. Menurut...